Menjadilah manusia utuh. Itu kata-kata yang terngiang saat ini ketika pertama kali suaku padamu berbareng tangan terjabat erat. Kali pertama melihat wanita tak beda rupa dengan lain. Suatu waktu wanita itu mengepalkan tangan meninju langit seolah raganya tak jatuh cinta pada penat. Aku fikir kau sedang berburu kegilaan saat mengajakku ke sebuah tempat dimana aku bisa mengenal dirimu lebih gila lagi. Wanita gila dengan sejuta makna. Terkadang kau berujar ingin mendaki gunung, maka serta merta kau pergi saja dengan sedikit menerorku, terkdang kau pernah menggenggam sebuah pisau yang ku kira kan kau pakai untuk merencanakan misi pembunuhan tapi ternyata kau gunakan untuk memutilasi sayur mayur itu. Benar-benar wanita multi talenta.
Aku pernah melintasi pikiran nakalku dengan statemen bahwa kau malas. Membiarkan buku-buku gilamu yang dominan cover berwarna merah tergeletak sembarang di rumah kita. Kini aku kenal cara gilamu menularkan kegilaan itu. Tak kan kau pernah memberi titah untuk membaca tapi kau hamparkan saja buku itu agar aku terbetik untuk menjadikannya kolam, menyelami isinya bukan membacanya.
Lain waktu aku pernah dipaksa bangun dari lelapku saat kau dan teman-teman anehmu bertarung hebat di lingkaran duduk itu. ”Buatkan kami kopi” katamu ketus, kemudian aku mempelajari itu semua sebagai ilmu gila yang tak didapat dalam ocehan-ocehan formal, biar aku mencerna semua dialog-dialog hebat kalian dan menafsirkannya sendiri tanpa tanya tanpa diskusi hanya dengan menuangkan kopi ke setiap cangkir-cangkir teman-teman anehmu. Ternyata.... banyak sekali curian-curian yang kupetik dari lontaran-lontaran aneh kau dan teman-temanmu dan kulirik kau tak meminum sedikitpun kopi yang kau pinta. ”Ilmu secangkir kopi” katamu
Yah.... kau wanita itu, bukan guru bagiku. Karena guru mengajarkan dan kau tidak mengajarkan tapi ”menenggelamkan”ku. Aku hanya tahu tentang wanita yang memegang Al Qur’an dan fasih berkata ’afwan, manhaj, syuro dan bahasa sejenisnya. Tapi aku rumit sekali mewakilkanmu dengan sebutan akhwat. Karena rupa dan kegilaanmu tak bertepi hanya pada buku-buku arab itu dan jilbab lebarmu. Bahkan aku sukar menemukan padanan yang tepat dalam kata wanita untukmu. Kau tak rupa pula dengan tawa mereka, bicara mereka, dandanan mereka, tapi sekali-kali kata-kata dan seleramu itu yang sedemikian rupa membuat aku dan teman-teman anehmu kerap senam kepala dengan menggeleng-gelengkan kepala.
Aku pernah meminta izin pada wanita itu untuk memeriksa isi lemarinya, kali saja aku menemukan topeng segala rupa di sana untuk kau pakai dalam setiap kuasamu. Aku hanya menemukan buku-buku gila yang nyaris memenuhi 2 tingkat lemarimu dengan pakaianmu hanya 1 tingkat. Ini benar-benar gila. Kau tak mengenakan topeng rupanya.... wanita dengan segala rupa. Ku kira kau sama dengan teman-teman anehmu, memoles lipgloss kerendahan bicara, berbedak kesantunan dan memakai celak ghadul bashor serta tak lupa sedikit menyapu muka dengan alas bedak ketawadhuan. Ternyata kau punya segala rupa ”make up”.
Wanita itu benar-benar menjadi utuh. Dengan segala rupa dan kegilaannya. Aku bilang sekali lagi… kau bukan guru tapi virus bagiku. Menularkan tapi tak mengajarkan. 3 tahun lebih, hidup bersama hingga kau meninggalkan ”medan aneh” ini dengan sejuta kehilangan yang dalam. Aku sempat menyusulmu ke pelosok itu, tempat aku juga sama-sama memberikan arti. Aku hanya ingin menjenguk rupamu yang utuh itu, ternyata kau semakin gila di sana. Dan parahnya aku lalang saja meninggalkanmu setelah 2 jam bertarung hebat dengan otak yang kau bilang mesin rongsok sembari menuturkan kisah ”ilmu secangkir kopi” yang masih kuterapkan pada ajang estafet itu. Aku masih belum juga mengucapkan terimakasih padamu saat kau membenamkan aku dalam kegilaanmu, menghancurkan ”mesin rongsok” milikku dan menularkan semua rupamu itu.
Wanita utuh dengan segala rupa dan segala fikiran dan selera gilanya. Kau kini berdiri di menara itu. Aku putuskan untuk membeli formalin mengawetkan otakmu yang tersangkut di ”mesin rongsok”ku. Kemudian aku tetap tak mampu menjadi wanita utuh itu dan aku mungkin hanya memiliki topeng untuk melakukan kegilaan-kegilaan itu dengan segala rupa.
NB: teruntuk wanita utuh itu. Sedikit banyak kaulah dalang dari racun yang menyebar di tubuhku kini. Kini aku hanya sekedar wanita biasa dan pura-pura sombong mengaklamasikan diri menjadi guru besar.
Mungkin kalian tak tahu siapa wanita utuh itu.... karena ia tak terjangkau oleh daftar tokoh-tokoh kampus kini. Kini datangilah ia di rumah, maka kalian tak lagi menemukan buku-buku gila itu berserakan.
alhamdulillah, dah aktif lagi nulis di blog ya vie,bagus tulisannya vie walaupun bahasanya "TINGGI" cie.. Btw setiap episode dlm kehidupan kita adalah tuk belajar, n tiap ciptaan Allah SWT di muka bumi adalah bhn pelajaran buat kita,jadi jgn ada rasa dendam (spt yg mb rasa di tulisanmu, moga aja tdk)karena sedikit banyak dia sudah memberikan pelajaranNYA kpd mu dlm rangka menjadi wanita utuh...lam istiqomah slalu.
BalasHapus