Mengenai Saya

Foto saya
cinta damai, menyukai petualangan& tantangan... easy going...

Minggu, 09 Mei 2010

cerita sarat kaderisasi

Menjadilah manusia utuh. Itu kata-kata yang terngiang saat ini ketika pertama kali suaku padamu berbareng tangan terjabat erat. Kali pertama melihat wanita tak beda rupa dengan lain. Suatu waktu wanita itu mengepalkan tangan meninju langit seolah raganya tak jatuh cinta pada penat. Aku fikir kau sedang berburu kegilaan saat mengajakku ke sebuah tempat dimana aku bisa mengenal dirimu lebih gila lagi. Wanita gila dengan sejuta makna. Terkadang kau berujar ingin mendaki gunung, maka serta merta kau pergi saja dengan sedikit menerorku, terkdang kau pernah menggenggam sebuah pisau yang ku kira kan kau pakai untuk merencanakan misi pembunuhan tapi ternyata kau gunakan untuk memutilasi sayur mayur itu. Benar-benar wanita multi talenta.

Aku pernah melintasi pikiran nakalku dengan statemen bahwa kau malas. Membiarkan buku-buku gilamu yang dominan cover berwarna merah tergeletak sembarang di rumah kita. Kini aku kenal cara gilamu menularkan kegilaan itu. Tak kan kau pernah memberi titah untuk membaca tapi kau hamparkan saja buku itu agar aku terbetik untuk menjadikannya kolam, menyelami isinya bukan membacanya.

Lain waktu aku pernah dipaksa bangun dari lelapku saat kau dan teman-teman anehmu bertarung hebat di lingkaran duduk itu. ”Buatkan kami kopi” katamu ketus, kemudian aku mempelajari itu semua sebagai ilmu gila yang tak didapat dalam ocehan-ocehan formal, biar aku mencerna semua dialog-dialog hebat kalian dan menafsirkannya sendiri tanpa tanya tanpa diskusi hanya dengan menuangkan kopi ke setiap cangkir-cangkir teman-teman anehmu. Ternyata.... banyak sekali curian-curian yang kupetik dari lontaran-lontaran aneh kau dan teman-temanmu dan kulirik kau tak meminum sedikitpun kopi yang kau pinta. ”Ilmu secangkir kopi” katamu

Yah.... kau wanita itu, bukan guru bagiku. Karena guru mengajarkan dan kau tidak mengajarkan tapi ”menenggelamkan”ku. Aku hanya tahu tentang wanita yang memegang Al Qur’an dan fasih berkata ’afwan, manhaj, syuro dan bahasa sejenisnya. Tapi aku rumit sekali mewakilkanmu dengan sebutan akhwat. Karena rupa dan kegilaanmu tak bertepi hanya pada buku-buku arab itu dan jilbab lebarmu. Bahkan aku sukar menemukan padanan yang tepat dalam kata wanita untukmu. Kau tak rupa pula dengan tawa mereka, bicara mereka, dandanan mereka, tapi sekali-kali kata-kata dan seleramu itu yang sedemikian rupa membuat aku dan teman-teman anehmu kerap senam kepala dengan menggeleng-gelengkan kepala.

Aku pernah meminta izin pada wanita itu untuk memeriksa isi lemarinya, kali saja aku menemukan topeng segala rupa di sana untuk kau pakai dalam setiap kuasamu. Aku hanya menemukan buku-buku gila yang nyaris memenuhi 2 tingkat lemarimu dengan pakaianmu hanya 1 tingkat. Ini benar-benar gila. Kau tak mengenakan topeng rupanya.... wanita dengan segala rupa. Ku kira kau sama dengan teman-teman anehmu, memoles lipgloss kerendahan bicara, berbedak kesantunan dan memakai celak ghadul bashor serta tak lupa sedikit menyapu muka dengan alas bedak ketawadhuan. Ternyata kau punya segala rupa ”make up”.

Wanita itu benar-benar menjadi utuh. Dengan segala rupa dan kegilaannya. Aku bilang sekali lagi… kau bukan guru tapi virus bagiku. Menularkan tapi tak mengajarkan. 3 tahun lebih, hidup bersama hingga kau meninggalkan ”medan aneh” ini dengan sejuta kehilangan yang dalam. Aku sempat menyusulmu ke pelosok itu, tempat aku juga sama-sama memberikan arti. Aku hanya ingin menjenguk rupamu yang utuh itu, ternyata kau semakin gila di sana. Dan parahnya aku lalang saja meninggalkanmu setelah 2 jam bertarung hebat dengan otak yang kau bilang mesin rongsok sembari menuturkan kisah ”ilmu secangkir kopi” yang masih kuterapkan pada ajang estafet itu. Aku masih belum juga mengucapkan terimakasih padamu saat kau membenamkan aku dalam kegilaanmu, menghancurkan ”mesin rongsok” milikku dan menularkan semua rupamu itu.

Wanita utuh dengan segala rupa dan segala fikiran dan selera gilanya. Kau kini berdiri di menara itu. Aku putuskan untuk membeli formalin mengawetkan otakmu yang tersangkut di ”mesin rongsok”ku. Kemudian aku tetap tak mampu menjadi wanita utuh itu dan aku mungkin hanya memiliki topeng untuk melakukan kegilaan-kegilaan itu dengan segala rupa.

NB: teruntuk wanita utuh itu. Sedikit banyak kaulah dalang dari racun yang menyebar di tubuhku kini. Kini aku hanya sekedar wanita biasa dan pura-pura sombong mengaklamasikan diri menjadi guru besar.

Mungkin kalian tak tahu siapa wanita utuh itu.... karena ia tak terjangkau oleh daftar tokoh-tokoh kampus kini. Kini datangilah ia di rumah, maka kalian tak lagi menemukan buku-buku gila itu berserakan.

wanita inspiratif

Kini aku kembali ingin menceritakan kpada kalian smua.tentang kisah seorang wanita yg beberapa bulan ini slalu menjadi pemadat ruang perenunganku.Tentang seorang wanita biasa yg kmudian justru dg keBIASAannya itu dia menjadi luar biasa di mata&hatiku.
Suatu ketika aku pernah mengeluhkan tentang pekatnya pergaulan para "wanita penggerak" dg para "pria pejuang" yg kini seolah menjadi tren komunikasi gaya baru.Kagetnya aku ktika ia malah mematahkan keluhanku dg sbuah pengakuannya bahwa ia pun dulu pernah terjebak dg kondisi seperti itu.Aku fikir dia adalah wanita yg tak tersentuh "dosa teknologi",memiliki benteng sekokoh baja di hatinya.Lalu,ia melanjutkan pernyataan bahwa ini adalah obat penawar "penyakit" itu.Aku bs katakan efek jera&blajar dr pengalaman namanya.yah...begitulah kira2 ia menyimpulkan.
Lantas,aku pun menelusuri kisahnya yang tak pernah habis.Di saat kini hampir kbanyakan "wanita penggerak" itu membangun kerajaan mimpi tentang masa depan,berkutat pada harapan semu dan picisan maka ia adalah wanita yang memenuhi rongga hatinya dengan cita mulia yang hampir dilupakan o/kaum penggerak itu.Ketika wanita2 seusianya berlomba bermimpi&beretorika di status,notes,komen&lisan tentang sbuah harapan pernikahan&cinta maka ia wanita yang tak memiliki ruang berfikir u/hal itu.
Ketika wanita seusianya memiliki kapasitas kekhawatiran yang besar tentang jodoh&kelajangannya maka ia memiliki kekhawatiran yang besar tentang kemunduran pergerakan ini.Maka disini aku katakan ia bermimpi tentang jodohnya terhadap kemenangan,berkahayal tentang indahnya pergerakan yg bangkit, berharap datangnya kader2 baru yg smkn banyak berkontribusi. Beda skali dg wanita2 penggerak itu. Ia hanya sibuk bermimpi tentang jodohnya terhadap pernikahan, berkahayal ttg indahnya rumah tangga dan berharap datangnya ikhwan.Itulah kenapa ia tampak begitu asing di dalam dunia pergerakannya sendiri.
Dia pernah berkata: nista sekali kita berfikir besar u/sbuah masa dpn kita namun berkarya kerdil u/peradaban kita.Sibuk mengecam pejabat yg tak memikirkan kondisi rakyat,sementara kita pun sibuk sendiri memikirkan cinta&jodoh kita. Apa bedanya kita???
Ketahuilah,dia bukan wanita dari jenis makhluk yang berbeda atau dari planet lain.Dia adalah wanita yang sama rupa dengan wanita kebanyakan memiliki segumpal hati dalam organ tubuhnya.Lantas,kenapa ia wanita yang berbeda fikir,mimpi dan cita dengan para wanita penggerak lainnya??? Ia juga punya mimpi katanya,ia juga punya harap ujarnya.Namun aku tak punya space yang luas untuk itu."Aku tak mengubur asa pribadiku"ujarnya.
Fikiran sampah!!! Katanya.Yah,sampah yang kemudian didaur ulang menjadi ambisi dakwah,kataku.Kedok itu,katanya. Sekali lagi ia menegaskan keberadaannya sbagai wanita biasa: "Aku punya harap pribadi tapi tak punya gunung untuk menyetarakan ketinggian harapku itu,Aku punya mimpi tapi tak punya laut untuk meluaskan mimpi cintaku". Kubilang itu baru manusia.Lantas,apa namanya bagi para wanita penggerak itu yang otak&khayalnya sudah dipenuhi mimpi2 picisan setinggi gunung&harapan picisan seluas samudera??? Liarkah mereka atau wajarkah mereka dalam pergerakan ini??? Tapi mereka nyata pula dalam pernyataan mereka di lisan,status,notes dan komen.
Wanita utuh itu nyata bagiku...dia bergelut denganku beberapa masa belakangan hingga kini.Dalam curahannya untuk pergerakan ini,tanpa menunggangi status wanita penggerak untuk harapan picisannya.
Tulisan ini didedikasikan untuk wanita penggerak&penggiat yang kini aktif mendaki gunung harapan,menyelami luasnya samudera mimpi,menjelajahi bentangan khayal.Sungguh,kita tak pernah bisa menjadi utuh karena mimpi kita yang layak diabadikan dalam serial teenlit remaja.

Kamis, 24 Desember 2009

dongeng wanita

Izinkan aku bercerita tentang seorang,dua orang atau bahkan beberapa orang wanita.Wanita yang mungkin bagi kalian tak punya prestasi&prestise atau bahkan bukan artis/tokoh di dunia kalian.Tapi dia begitu berarti dalam hidupku.1. Ibuku.yah...maaf.aku memanggilnya dengan sebutan mama di rumah.sebuah panggilan yang dulu bernilai prestise dibanding sebutan ibu/emak.ah...apalah artinya itu.aku kali ini akan mendongengkannya dengan panggilan ibu.Ibuku tak punya pengetahuan yang luas tentang dunia ini tapi memiliki segudang ilmu untuk "melawan" kerasnya hidup untuk mendidik&membesarkan anak2nya.2."Guru Pendidikan"ku.dia memang wanita yang cukup biasa di mata orang secara prestise.hanya ibu rumah tangga.tapi kiprahnya mngasuh 4 orang anak dengan suami yang sering keluar kota dan aktivitas "sebar"nya yang padat tak lantas melucuti gelar pemaklumannya sebagai ummahat dengan 4 orang anak yang sibuk mengurusi rumah.Dia beda bagiku dengan wanita lainnya.Menerjang sakitnya,tugas rumah tangganya&nekad belajar motor untuk tidak dimaklumi karena statusnya.3.Guru sekolahku.dulu aku tidak pernah menyukai lagu/idiom bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa tapi saat aku mengenal salah seorang ibu guruku,aku akui lagu itu diciptakan hanya untuk beberapa orang saja termasuk beliau.Dia wanita yang meredam gelegar suara lantangku,menyentil kenakalanku bahkan melakoni semua peran yang tak hanya menjadi job desk profesinya.suatu ketika aku pernah berkunjung ke rumahnya saat aku ingin memprotes tentang kelusuhan sekolah kami.Maka,dengan tenang ia menjawab: permasalahan itu terkadang tidak membutuhkan gerutuan tapi pembuktian keras di kemudian hari.tapi,sayang...aku tidak mengambil jurusan fkip untuk membuktikan itu semua.4.Sahabatku.dia wanita biasa kini.meski dulu ia punya segudang prestasi&prestise di kalangannya.ia menjadi tokoh wanita.aku bersahabat dengan mereka para wanita itu bak benalu.menyerap semua kebaikan yang dimilikinya kemudian tak memberikan sesuatu apapun bagi mereka.bahkan,terkadang aku sering bertengkar hebat dengan "dogma"nya.tapi,keberadaan mereka lah yang menjadikan warna fikiranku tentang dunia "beban" ini.yah...keempat wanita itu bahkan bisa kukatakan lebih jumlahnya adalah wanita-wanita yang kemudian menginspirasikan aku,kau dan kita semua untuk memiliki warna dalam menyikapi hidup ini.menjadi wanita biasa tak kan bisa mendapatkan hal yang luar biasa atau wanita luar biasa yang kemudian memperoleh kebiasaan.Penghargaan aku tak punya untuk mereka....tapi aku ingin membeli benih mereka kemudian kutanam&kupupuk di setiap kebun-kebunku.Lahan-lahan itu kan bersemai semua rupa wanita itu.

Sabtu, 12 Desember 2009

senjaku kali ini, di atas perahu

Deskripsikanlah tentang sebuah keindahan yang berjalan iring dengan kesedihan,maka niscaya kebingungan kan hinggap. Namun,kali ini aku akan mendeskripsikan ini semua. Hari, ini !!! Selepas aku berpetualang senja ini, 5 Desember 2009, 17.45 wib.
Tahukah kalian bagaimana rasanya, duduk di atas perahu mengelilingi aliran sungai musi yang berkabut saat senja sayup adzan maghrib menggema??? Kukatakan, AMAZING !!!! Indah, inspiratif, seolah ide-ide segar berebutan meloncat keluar dari otakku. Damai itu menelusup di rongga hati, tatkala kulihat riak air, kabut & lantunan adzan berkolaborasi menjadi ritme kesejukan di kalbu. Itu nikmatnya melebihi dari setumpuk burger bagi plankton spongebob, menurutku... Ah.. Senja itu aku ingin memvonisnya sebagai senja terindah dari kelanaku selama ini...Di atas perahu itu, aku mendekalarasikan nuansa ini sebagai kelana inspiratifku kedua atas loncatan-loncatan ide segar.Maaf,kawan. Aku tak sepandai Andrea Hirata yang melukiskan kelananya dengan Weh ke Mentawai dalam kisah Edensor. Namun, nuansa ini seolah melucuti semua selimut fikiranku, kekeruhan otakku. Aku saat itu sejenak hanya mampu menghadirkan gembira yang meletup-letup.... yah....sejenak,kawan.
Aku tak sendiri dalam perahu itu. Saka, nama bocah yang menjadi nakhoda perahuku. Tak tahu, hanya itu jawabannya ketika kutanya umur bahkan tanggal & tahun lahirnya !!! Berhenti sekolah lepas kelas 6 SD. Aku tak mampu menterjemahkan sedihnya saat ia bercerita tentang kehidupannya. Tanpa orangtua dan tak sekolah. Entah, layakkah aku membuat cuplikan hidupnya menjadi sebuah novel laiknya Laskar Pelangi... Setiap hari ke sawah di seberang(Muara sungsang) dari rumahnya di Jalan kavling yang ternyata dekat dengan markas perjuanganku. Tak terlukis letihnya ia mengayuh perahu setelah seharian mencangkul sawah..Saka menawariku mengelilingi pulau Kemaro dan Sungsang untukku, saat aku termenung di dermaga kecil Intirub untuk mencari inspirasi hidup. Di antara lantunan adzan, di tengah euphoriaku atas nuansa segar ini, ia tanpa sedih menceritakan hidupnya. 13 tahun sepertinya, seusia dengan adik bungsuku, Arman. Tapi, ia harus memikirkan hidupnya atau lebih tepatnya memikirkan makannya. Ini baru namanya, mencari hidup untuk makan. Ia tak pernah punya mimpi untuk sekolah... Karena baginya mimpi sekolah itu sama tingginya dengan mimpiku untuk meraih asa di Melbourne... Sedih dan damai itu berebut hadir menyeruak dalam perasaanku. Hari ini, senja ini, aku tak mendapatkan jawaban apapun atas masalah yang menderaku... Tapi, aku punya kunci untuk mengarungi kehidupan ini... Dari seorang bocah kecil yang tak tahu tanggal lahir, tak punya orangtua dan berbaik hati menawarkan aku untuk mengelilingi aliran sungai ini. Seolah-olah saat itu aku sedang menjadi robot emotion yang menampilkan display gambar menangis dan tersenyum bergiliran.. Aku bahkan tak tahu setiap detik saat di atas perahu itu, apakah aku harus tersenyum atau menahan titik airmata turun...
Bagiku, ini kelana isnpiratifku, kawan.. Karena mungkin bagi kalian ini hal biasa... Maaf, karena aku tak seperti Andrea Hirata yang melukiskan kisah inspiratif meletup-letup. Tapi, aku hanya ingin membagikan dengan kalian, bahwa terkadang hidup itu bukan untuk hidup... Tapi untuk menunggu waktu kematian menjemput...yah...terkadang...tapi memaknai hidup itu adalah seni kehidupan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang tak terduga dalam deret fikirmu. Sekali lagi, Saka namanya...Bocah tak tahu umur, tanpa orangtua dan mengurus sawah.... Di atas perahu itu, diiringi lantunan syahdu adzan maghrib di surau dekat sungai, kabut dan kilauan lampu pabrik pusri... Memaknai hidup menjadi hidup bermakna..
(Maaf,atas kelemahanku mendeskripsikan kisahku)